Pages

Sunday, 24 February 2013

Sejarah GUBERNUR JAWA BARAT dari masa ke masa


Hari ini warga Jawa Barat memberikan hak suaranya untuk menentukan siapa Gubernur Jawa Barat lima tahun mendatang. Lima calon pasangan gubernur dan wakil gubernur bertarung untuk memperebutkan posisi Jabar 1.

Tapi siapa sangka, Gubernur Jawa Barat pertama ternyata bukanlah orang Jabar atau Sunda tulen, melainkan seorang Jawa, warga Blora, Jawa Tengah. Dialah Mas Sutardjo Kartohadikusumo.

Sutardjo lahir di Kunduran, Blora, Jawa Tengah pada 22 Oktober 1892. Dia menjadi Gubernur Jabar pertama pada tahun 1945. Menurut UU Nomor 1 Tahun 1945, daerah Jabar menjadi daerah otonom provinsi. Meski menjabat sebagai Gubernur Jabar, namun Sutardjo tidak ngantor di Bandung, melainkan di Jakarta.

Sutardjo merupakan tokoh nasional. Dia aktif di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Salah satu warisannya yang paling monumental adalah dia menggagas Petisi Sutardjo. Petisi tersebut diajukan pada 15 Juli 1936 kepada Ratu Wilhelmina serta Staten Generaal (parlemen) Belanda. Petisi ini dia gagas sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap kebijakan politik Gubernur Jenderal Do Jonge.

Selain pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat pertama, Sutardjo pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Berikut urutan Gubernur Jawa Barat mulai 1945 sampai 2013:

-Mas Sutardjo Kertohadikusumo tahun 1945
-Datuk Djamin tahun1945-1946
-Murdjani tahun 1946
-R. Mas Sewara tahun 1946 -1948
-Ukar Bratakusumah tahun 1948-1950
-R. Mas Sewara tahun 1950-1951
-Sanusi Hardjadinata tahun 1951-1956
-Ipik Gandamana tahun 1956-1959
-Mashudi 1960-1970
-Solihin Gautama Purwanegara tahun 1970-1974
-Aang Kunaefi tahun 1975-1985
-Yogie Suardi Memet tahun 1985-1993
-R. Nuriana tahun1993-13 Juni 2003
-Danny Setiawan 13 Juni 2003-2008
-Ahmad Heryawan tahun 2008-2013

Siapakah pengganti Ahmad Heryawan (Aher) nanti? Atau apakah dia masih akan melanjutkan jabatannya sebagai Gubernur Jabar? Dalam beberapa jam ke depan,s etidaknya kita akan bisa menemukan jawabannya, setidaknya dari hitungan cepat (quick count) dari beberapa lembaga survei.

Tertangkap BASAH pelaku Black Campaign PILKADA Jawa Barat



Tim Sukses Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar berhasil membekuk pelaku black campaign yang hendak menyerang kubunya melalui media spanduk. Diketahui, pelaku berasal dari kubu calon incumbent lainnya, Dede Yusuf.

Tim Advokasi pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar, Firman Hidayat mengatakan pelaku berjumlah dua orang berinisial RK dan AN.

Saat itu, pelaku sedang loading barang berupa tumpukan spanduk tepat berada di salah satu percetakan di Jalan Lengkong Kecil, Bandung.

"Jadi kita sempat mendapat laporan sejak siang, akhirnya kita menelusuri mulai pukul 18.00 WIB, akhirnya kita tangkap sekitar pukul 20.00 WIB tadi," kata Firman di Panwaslu Jabar, Bandung, Sabtu (23/2).

Penangkapan itu tidak dilakukan seorang diri. Firman terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

"Kita ada satu tim berjumlah 6 orang, sedangkan dari intel ada satu orang," jelasnya.

Melalui hasil pemeriksaan bersama Panwaslu Jabar, pelaku kata dia, mengaku disuruh oleh salah satu tim Babarengan Media Center (BMC).

"Mereka disuruh oleh Dadan salah satu tim sukses dari pasangan nomor urut 3 (Dede Yusuf-Laksamana)," katanya.

Di tangan pelaku didapat 70 lembar spanduk yang sudah siap tempel di wilayah Bandung Raya. "70 sudah beres, katanya spanduk akan dicetak 100," ujarnya.

Adapun spanduk berukuran 2x3 itu bergambar cover majalah Tempo yang akan dimuat Senin (26/2) mendatang yang isinya berupa fitnah kepada Gubernur Ahmad Heryawan.

Akhir dari sebuah pertarungan BHARATA YUDA



Anas Urbaningrum menyatakan berhenti sebagai ketua umum Partai Demokrat setelah ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus Hambalang. Anas merasakan adanya faktor non hukum yang membuatnya jadi tersangka. Secara tersirat Anas menyerang beberapa pihak, termasuk kepada tokoh yang dihormatinya selama ini, SBY.

Dalam jumpa pers di kantor DPP Partai Demokrat, Sabtu (23/2) kemarin, Anas mengatakan langkah KPK menjadikan dirinya tersangka karena ada pesanan dari pihak tertentu. Bahkan Anas menilai langkah lembaga antikorupsi tak terlepas dari pernyataan Ketua Dewan Pembina Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

"Saya baru mulai berfikir, saya akan punya status hukum di KPK ketika ada semacam desakan agar KPK segera memperjelas status hukum saya. Benar katakan benar, salah katakan salah," ujar Anas di DPP Demokrat, Sabtu (23/2).

Setelah ada pernyataan itu, Anas mengaku langsung berfikir akan dinaikkan statusnya menjadi tersangka. Ternyata prasangka itu jadi kenyataan ketika KPK kemarin resmi menjadikan dirinya sebagai tersangka kasus Hambalang.

"Ketika ada desakan seperti itu saya baru mulai berfikir jangan-jangan saya menjadi yakin saya akan jadi tersangka di KPK, setelah saya dipersilakan untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK," katanya.

Direktur Pol-Tracking Institute Hanta Yudha menilai Anas tidak akan melakukan perlawanan seperti yang dilakukan Nazaruddin dengan berkoar-koar. Namun, Anas juga tidak akan tiarap seperti cara yang dipilih Andi Mallarangeng setelah mundur sebagai menpora.

"Tentu setelah tidak menjadi ketua umum lagi, perlawanan Anas akan berbeda dengan sebelumnya. Dia pasti akan berhitung dengan cermat. Anas akan membuat jalan perlawanan sendiri," ujar Hanta dalam perbincangan dengan merdeka.com, Minggu (24/2).

Hanta berharap, kalau Anas memiliki kartu truf yang disimpannya selama ini, hal itu harus dibuka agar menjadi pintu masuk berbagai kasus dugaan korupsi yang melibatkan orang-orang partai.

"Sedangkan untuk di organisasi, Anas masih bisa memanfaatkan modalitas loyalisnya yang tersisa. Di luar Demokrat dia masih punya jejaring," ujar Hanta.

Sepanjang polemik kasus Hambalang dalam dua tahun terakhir, menurut Hanta, ucapan Anas yang disampaikan dalam jumpa pers tersebut merupakan yang paling keras.

"Dia menyerang semuanya, KPK, opini publik yang telah menghakiminya, SBY, dan adanya konspirasi politik. Itu statement paling terang, jelas, dan keras yang diucapkan Anas," pungkas Hanta.

TPS telah dibuka, warga JAWA BARAT akan memilih No 3



Warga Jabar hari ini akan memilih pemimpinnya. Sekira 32,5 juta warga yang telah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) akan berbondong-bondong menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS). Tak terkecuali Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur itu sendiri.

Incumbent Ahmad Heryawan rencananya akan mencoblos di TPS 01, letaknya di sekitar rumah dinas Gedung Pakuan Bandung. Sementara pasangannya Deddy Mizwar akan mencoblos di Bekasi.

Dede Yusuf, akan menggunakan hak pilihnya di sekitar Jalan Imam Bonjol. Lokasi itu tak jauh juga dari Rumah Dinas yang terletak di Jalan Ir H Juanda.

Sebelum mencoblos Dede berencana membaur dengan warga di Car Free Day, Dago. Sedangkan pasangannya Lex Laksamana akan mencoblos di Jalan Tamansari.

Calon lainnya Rieke Diah Pitaloka, akan menggunakan hak pilih di TPS 20 Jalan KH Ahmad Dahlan, Kukusan Depok. Sedangkan wakilnya Teten Masduki akan berada di Limbangan Garut.

Pasangan nomor urut 2, Irianto MS Syafiuddin alias Yance dan Tatang Farhanul Hakim juga akan mencoblos secara terpisah. Yance akan mencoblos didaerah kediamannya Indramayu, sedangkan pasangannya di Tasikmalaya.

Sementara satu-satunya pasangan dari Independen Dikdik Mulyana Arif Mansyur akan mencoblos di kawasan Batununggal Bandung. Sedangkan pasangannya di Cecep NS Toyib di Indramayu.

Dari informasi yang dihimpun, hampir semua pasang calon menggunakan hak pilihnya lebih pagi, atau sekitar pukul 08.00 WIB. KPU sendiri menjadwalkan pencoblosan dari pukul 07.00 WIB - 13.00 WIB.