Pages

Monday, 18 March 2013

Indonesia my Lovely Country

Saat ini saya lagi diluar, tiap kali ketemu orang, pasti nebaknya kalau ga orang malaysia – kamboja kalau engga jauh ke latin Amerika. Tapi kalau ada pertanyaan itu saya selalu lantang menjawab “saya dari Indonesia looh”.. awalnya ringan banget dengan jawaban itu, tapi tinggal di sini selama ini bikin saya makin lama makin agak berat menjawabnya.

kenapa?

karena orang disini selalu membalas jawaban saya dengan :
“wah hebat ya, indonesia ekonominya kan lagi naik”
atau
“eh, banyak miliuner… …di indonesia ya?”

Kalau ditanya begitu saya biasanya bingung. saya mesti jawab apa ya? Saya tau bahwa negara saya kaya. Kaya budaya, kaya dengan hasil alam, tapi kalau tolak ukurnya ekonomi…….

Saya bukan orang yang mengerti masalah kenegaraan atau perekonomian atau apalah ya itu namanya. Tapi saya juga bukan berarti nggak peduli. Sampai saat ini cita-cita saya masih membangkitkan untuk usaha menengah kebawah, tapi memang juga masih cita-cita sih.. Tapi anyway, kalau saya dihadapkan dengan pernyataan pernyataan tadi, saya harus jawab apa ya?

Saya lahir dari keluarga yang nggak kaya, uang sekolah saya dan adik-adik saya aja usaha dari sana sini gimana caranya biar bisa sekolah gratis. Saya bukan orang susah juga sih, alhamdulillahnya saya masih bisa makan 3 kali sehari dan hang out kalau wiken. Tapi saya juga bukan orang semampu itu juga, buktinya ibu saya yang sudah seharusnya menikmati hasil jerih kerjanya bertahun-tahun masih harus sekolah demi perpanjangan status pegawai negrinya. Kalau harus pensiun dini, adik saya bisa-bisa nggak sekolah.

Itu baru keluarga saya, belum lagi masalah yang ada di sekitarnya. Banyak keluarga yang saya tau – hanya makan 2 kali sehari. Saya pernah tinggal di sebuah keluarga yang makannya aja harus nunggu sisa dari majikannya. Kadang malah sisa nasi majikannya – atau kerokan sisa di rice cooker yang udah kering, dijadikan renginang – demi bisa makan.

Semua juga pasti tau cerita anak-anak pulau yang kalau mau sekolah aja harus manjat atau nyebrangin tali jembatan dulu. Belum lagi soal mereka yang kurang gizi? Atau ini deh yang paling hangat, yang baruuu aja hari ini terjadi, demo buruh – karena UMR yang terlalu rendah, dan mereka nuntut kenaikan.
hm..

Satu hal sih yang ada di pikiran saya. Apa ya rasanya masuk daftar 10 besar miliuner Indonesia tapi dengan keadaan negara yang sebegininya?

Kalau ada yang nyalahin negara atau pemimpinnya, saya sih nggak ikutan ya. Saya sih nggak nyalahin siapa-siapa. Kadang dengan kritikan seperti ini, banyak orang yang juga menjawab dengan “looh, saya kaya raya kan karena saya berusaha!” atau “saya kerja loh” atau “ini kan jerih payah saya? masa lo ngiri?!” Tapi sadar nggak sih, bahwa jawaban itu adalah jawaban paling egois sedunia?. Banyak dari mereka yang berusaha mati-matian tapi gajinya bahkan nggak cukup buat makan. Banyak dari mereka yang lerja lembur seperti sapi perah tapi boro-boro di bayar sepadan, malah di caci atau di potong gaji kalau nggak sengaja terlambat. ang seperti itu apa namanya bukan jerih payahkah?

Kalau menurut saya itu adalah karena kesempatan. Memang sih, semua juga Tuhan yang mengatur, Rejeki.. Tapi, andai mereka yang mampu ini juga ikut menjadi tangan Tuhan untuk membantu. Zakat misalnya? atau anak asuh? adik asuh? siapa tau kita bisa ikut bantu betulin negara. Nggak cuma nunggu pemerintah. Kalau cuman nunggu tanpa usaha, mau rezim ganti sejuta kali, mau pemimpinnya sebagus apapun, sepertinya kelamaan juga nunggunya.

Indonesia my lovely country,..bener ga pak Presiden ????

JOKOWI disetting menjadi Wakil Presiden 2014 kelak

Nama Joko Widodo kian populer sejak menjabat Gubernur DKI Jakarta. Dalam beberapa survei, Jokowi-sapaan akrab Joko Widodo- selalu menempatkan namanya pada deretan teratas dari tokoh paling populer di Indonesia.

Jokowi juga digadang-gadang bakal memenangi pertarungan calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2014 mendatang. Mantan Wali Kota Solo itu juga diyakini bakal menang jika dipasangkan dengan tokoh nasional lainnya.

Meski demikian, ada juga yang meragukan kemampuan Jokow.i Pasalnya, ia menjadi orang nomor satu di Jakarta belum genap setahun. Sehingga memaksa Jokowi untuk menuntaskan dan membuktikan janji politiknya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

1. Lembaga Survei Jakarta (LSJ)

Hasil survei Lembaga Survei Jakarta (LSJ), Joko Widodo ditempatkan menjadi capres yang paling diidolakan dengan nilai 18,1 persen. Disusul Prabowo Subianto 10,9 persen, Wiranto 9,8 persen, Jusuf Kalla 8,9 persen, dan Aburizal Bakrie 8,7 persen. Sedangkan Megawati Soekarnoputri elektabilitasnya hanya mencapai 7,2 persen saja.

"Meskipun favorit menurut survei tapi kenyataannya Jokowi menurut saya hanya bisa jadi wapres saja," kata peneliti LSJ Igor Dirgantara di Pulau Dua Resto, Jakarta, Selasa (19/2).

Menurutnya, elektabilitas Jokowi bisa saja turun jika mantan wali kota Solo itu tidak bisa membuktikan kemampuannya dalam memperbaiki Kota Jakarta yang sering dilanda banjir dan kemacetan.

"Jokowi harus membuktikan diri dulu baru dia bisa mempertahankan citranya," ujarnya.

2. Pusat Data Bersatu (PDB)

Sama halnya LSJ, Pusat Data Bersatu (PDB) juga menempatkan Jokowi di urutan teratas. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan lembaga itu, Jokowi menempati rangking pertama dengan 65,3 persen. Kemudian disusul urutan kedua Jusuf Kalla 59,2 persen, Megawati 52,9 persen, Prabowo Subianto 51,9 persen dan Rhoma Irama 50 persen.

"Jokowi paling banyak dikenal di masyarakat peringkat pertama dari sekian tokoh yang dijajarkan," jelas Didik.

Sedangkan elektabilitas tokoh yang nantinya sangat potensial sebagai capres 2014 dari 30 lebih nama-nama yang dipamerkan, Jokowi merupakan capres potensial dengan 21,2 persen. Urutan kedua disusul Prabowo Subianto 17,1 persen, Megawati 11,5 persen dan Rhoma Irama 10,4 persen.

Sedangkan Aburizal Bakrie 9,7 persen, kemudian Jusuf kalla 7,1 persen dan disusul nama-nama lain seperti Mahfud MD, Wiranto, Dahlan Iskan dan nama lainnya.

Begitu juga jika hanya 13 nama yang dipamerkan sebagai tokoh potensial capres 2014, Jokowi tetap menduduki urutan pertama dengan 21,2 persen.

"Prabowo 18,4 persen, Megawati 13,0 persen, Rhoma 10,4 persen, Aburizal Bakrie 9,3 persen, Jusuf Kalla 7,8 persen dan Wiranto 3,5 persen," jelasnya.

3. Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) cukup mengejutkan? Lembaga ini merilis pasangan capres-cawapres paling diunggulkan yakni Aburizal Bakrie dan Joko Widodo dengan perolehan 36 persen suara.

Pasangan ini mengalahkan dua pesaing di bawahnya yakni Megawati-Jusuf Kalla dengan 22,9 persen dan Prabowo-Hatta Rajasa dengan dukungan suara 10,1 persen.

"Jika tiga poros, poros Golkar, poros PDIP dan poros Demokrat-Gerindra koalisi terealisasi maka simulasi yang kita buat di pemilu 2014 akan ada pasangan Aburizal Bakrie-Jokowi, Megawati-Jusuf Kalla, Prabowo-Hatta Rajasa," kata peneliti LSI, Adjie Alfaraby di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta, Minggu (16/3).

Jika dipasangkan dengan Jokowi, Ical diperkirakan unggul dari para pesaingnya. Keduanya diperkirakan akan memperoleh suara hingga lebih dari 30 persen.

"Dari tiga kandidat tersebut maka Aburizal dan Jokowi menang dengan 36 persen. Megawati-JK 22,9 persen, Prabowo-Hatta 10,1 persen, dan 31 persen belum memutuskan. Mengapa mereka unggul? Karena dua kandidat ini baru dari yang lain," tandasnya.

Selain pasangan capres yang bakal kuat di pilpres 2014, LSI juga melakukan survei terkait siapa sosok yang paling diidamkan maju sebagai capres di pemilu nanti. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri masih menjadi yang teratas jika diusung menjadi calon presiden dengan perolehan suara 20,7 persen.

Disusul tipis oleh nama Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dengan 20,3 persen. Di posisi ketiga dan keempat muncul dua nama yang bakal dicalonkan menjadi presiden di Pilpres 2014, yakni Prabowo Subianto (19,2 persen) dan Wiranto (8,2 persen).

Kemana ARAH kebijakan POLITIK SOESILO BAMBANG YUDHOYONO di tahun 2013

Kekisruhan POLITIK tahun 2013
 
Secara umum dinamika kehidupan politik Indonesia pasca-Orde Baru sebenarnya hampir selalu diwarnai kegaduhan yang bahkan mengarah pada karut-marut politik tanpa jalan keluar. Kendati tidak sedikit pencapaian dan prestasi bangsa dalam berdemokrasi selama lebih satu dekade terakhir, namun sulit dibantah bahwa semua pencapaian itu belum sepenuhnya dinikmati rakyat kita selaku pemegang saham mayoritas Republik ini. Demokrasi yang kita raih justru hanya dinikmati oleh para petualang politik, baik dalam pengertiannya secara harfiah, maupun para petualang yang berbaju “wakil rakyat” atau anggota legislatif, politisi parpol, dan juga para penyelenggara pemerintahan di lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif, di pusat dan daerah.
Kegaduhan politik, termasuk pada 2012, hampir selalu bersumber pada rendahnya kualitas komitmen dan tanggung jawab para elite politik pemegang mandat rakyat yang telah dipercaya mengelola negara dan pemerintahan namun mengkhianati mandat dan kepercayaan itu. Akhirnya yang muncul adalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang tak kunjung berkurang pada saat kehidupan mayoritas rakyat kita masih terpuruk. Nuansa saling rebut dan saling menjatuhkan masih akan mewarnai kontestasi elite politik sepanjang 2013.

Lima Isu Krusial

Oleh karena itu kegaduhan politik belum akan berkurang. Diperkirakan sedikitnya ada lima isu politik krusial yang bakal mewarnai dinamika politik Indonesia pada 2013 mendatang.

Pertama, isu di seputar pemilu legislatif dan pemilu presiden/wapres. Dalam konteks pemilu legislatif, potensi meningkatnya suhu politik bisa muncul terkait hasil verifikasi faktual Komisi Pemilihan Umum terhadap partai politik calon peserta pemilu. Gugatan terhadap KPU oleh parpol yang gagal lolos sebagai peserta pemilu mendatang bakal mewarnai dinamika politik awal 2013.

Sedangkan pada akhir kwartal pertama 2013, dinamika politik akan diwarnai tarik-menarik pencalonan legislatif. Potensi potensi konflik internal bakal muncul di Partai Demokrat akibat ketidakharmonisan relasi Ketua Umum Anas Urbaningrum dan Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua Majelis Tinggi Susilo Bambang Yudhoyono. Potensi konflik bisa muncul pula di Partai Nasional Demokrat (Nasdem) lantaran banyaknya orang yang merasa turut berjasa membesarkan Nasdem tetapi tersingkir sebagai calon legislatif.

Kedua, isu krusial seputar calon presiden. Terkait Pilpres 2014, tarik-menarik kepentingan parpol mengenai besaran persentase ambang batas pencalonan presiden. Isu ini bukan semata-mata soal perlu tidaknya ambang batas dinaikkan atau sebaliknya dikurangi, tetapi juga menyangkut peluang munculnya tokoh-tokoh alternatif sebagai capres mendatang. Terkait capres, dinamika tinggi bakal muncul di lingkungan Partai Golkar yang “ngotot” mengusung Aburizal Bakrie, dan juga di Partai Demokrat karena tidak adanya figur capres unggulan dari internal partai. Sejumlah kandidat yang ditengarai bakal diusung sebagai capres oleh Demokrat seperti Djoko Suyanto, Hatta Radjasa, dan Pramono Edhie Wibowo, tak satu pun yang “berkeringat” bagi parpol yang digagas oleh SBY tersebut, sehingga potensi penolakan internal pun tinggi.

Ketiga, isu krusial terkait badai politik yang masih membelenggu partai terbesar, Demokrat. Ketegangan relasi Anas-SBY masih akan mewarnai dinamika internal partai segitiga biru ini. Persoalan Demokrat tentu akan lebih ruwet lagi jika Andi Mallarangeng tak rela “dikorbankan” sendirian, dan Anas akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus-kasus korupsi yang diduga melibatkannya. Tidak mudah bagi Demokrat keluar dari kemelut politik yang dihadapinya jika mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam itu menjadi “pesakitan” KPK. Soalnya, jika Demokrat menggelar Kongres Luar Biasa, itu artinya parpol yang elektabilitasnya cenderung terus merosot ini bakal memulai konsolidasi internal dari nol lagi.

Keempat, isu politik lama terkait skandal bail out Bank Century yang terus mencari “mangsa” baru. Dengan diperpanjangnya masa kerja Tim Pengawas kasus Century oleh DPR selama satu tahun ke depan, diperkirakan skandal Century masih akan mengganggu kenyamanan pemerintahan SBY. Meskipun usulan penggunaan hak menyatakan pendapat hampir mustahil terwujud, sekurang-kurangnya skandal Century ini bakal tetap menjadi “mainan politik” beberapa anggota DPR yang selama ini sudah sering mengganggu “tidur siang” SBY. Apabila KPK menemukan calon tersangka baru dalam mengusut skandal Century, hal itu tentu akan menjadi peluru politik baru bagi sebagian anggota DPR yang terlanjur asyik “menikmati” panggung politik Senayan.

Kelima, sebagai konsekuensi logis dinamika politik nasional dan lokal yang hanya berporos pada persaingan kepentingan di antara para elite politik dan cenderung mengabaikan aspirasi rakyat, sangat mungkin skala unjuk rasa dan demontrasi yang mengarah pada tindak anarki dan kekerasan massa bakal meningkat dan meluas pula. Indikasinya sudah tampak pada unjuk rasa aparat desa yang mengepung Jakarta dan cenderung anarkis, begitu pula eskalasi demo buruh yang merasa tidak diperlakukan tidak adil dalam skema hubungan industrial yang berlaku. Belum lagi jika kita menghitung potensi konflik horizontal yang bersumber dari kegagalan negara mengelola dan mengawal pluralitas bangsa kita di satu pihak, serta ketidakmampuan negara menegakkan supremasi hukum di pihak lain.
Personalisasi Politik

Dibandingkan kegaduhan politik 2012, dinamika politik yang mengarah pada kegaduhan 2013 diduga cenderung lebih keras dan personal. Penyebab utama dari kecenderungan ini adalah mendekatnya momentum persaingan hidup-mati para elite politik menjelang Pemilu 2014. Persaingan kepentingan para elite politik, baik secara internal parpol maupun antarparpol, akhirnya bermuara pada perjuangan mempertahankan atau sebaliknya merebut kekuasaan pada pemilu mendatang.

Mengingat nuansa persaingan politik lebih bersifat kepentingan pragmatis ketimbang ideologis, maka kontestasi personal antartokoh akan lebih mewarnai dan bahkan mungkin mendominasi dinamika politik 2013. Sebagai konsekuensi logis dari menguatnya personalisasi politik, maka pertarungan gagasan substantif tentang solusi terbaik bagi aneka krisis bangsa kita, diperkirakan bakal semakin menguap pula.
Lalu kapan mayoritas rakyat kita bisa berharap dan merajut optimisme bila para pemimpin negeri ini tak kunjung peduli dan berpihak pada nasib mereka? Sampai kapan pemilu-pemilu kita hanya menjadi ajang kontestasi popularitas semu para pemburu kekuasaan?

Barangkali di sinilah urgensi menata ulang skema demokrasi kita pada umumnya dan format pemilu, perwakilan dan kepartaian pada khususnya. Sebab jika tidak, parpol-parpol kita akan terperangkap sebagai pilar korupsi dan salah-urus negara ketimbang sebagai pilar demokrasi.

Kemana Arah Politik CIKEAS

Partai Demokrat makin terombang-ambing, setelah KPU menolak bahwa yang tanda tangan calon legislator Cikeas periode 2014-2019.penolkan ini menyebabkan akan diadakannya KONGRES LUAR BIASA yang akan diadakan di Bali.

Syarat menjadi KEtua Umum Demokrat pun telah ditetapkan oleh Ketua Dewan Pembina Demokrat, Soesilo bambang Yudhoyono, antara lain :

1. Seorang calon ketua umum Demokrat harus senior di Demokrat,
2. Berasal dari kader Demokrat,
3. Tidak boleh merangkap jabatan,
4. Tidak boleh menjadikan kursi ketua umum untuk batu loncatan mencalonkan presiden RI atau wakilnya.
5. Loyal pada SBY dan tidak memihak salah satu faksi didalam partai

Dilihat dari persyaratan diatas muncullah nama dari kalangan internal terdapat seperti anggota Dewan Pembina Demokrat, Marzuki Alie, Ani Yudhoyono, Ibas Yudhoyono,

Nama lain yang dianggap layak memimpin  Demokrat adalah Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Menurut dia, tokoh ini memiliki integritas, bersih, ketegasan, kesederhanaan, dan mampu berkomunikasi dengan rakyat jelata. Selain itu, ada juga nama Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md. dan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi.

Mekanisme KLB di BALI

Demi menjamin keikutsertaan kadernya dalam Pemilu 2014 mendatang, Partai Demokrat segera mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) untuk menentukan pengisi takhta ketua umumnya.

Dewan Pembina beserta Majelis Tinggi akan atau telah menetapkan 2 calon nama Ketua Umumnya yang besar kemungkinan : Marzuki Alie dan Ani Yudhoyono.

Kedua nama tersebut mempunyai kredibilitas menjaga keharmonisan partai serta dapat menaikkan popularitas partainya menuju 2014 kelak.

Agar tidak terjadi kekisruhan di KLB tersebut, 2 nama yang cukup mumpuni untuk dipilih secara aklamasi oleh DPD dan DPC demokrat nantinya.

Kalau sudah begini, maka semakin jelas bahwa arah politik SBY  tidak mau Partai Demokrat yang didirikannya diketuai oleh orang-orang Cikeas atau loyalis Cikeas nantinya.Berarti tidak jauh beda dengan rezim Cendana di zaman Orde Baru yg lalu.


Sunday, 17 March 2013

Apa sih yang tidak mahal di REZIM SBY-BOEDIONO

Tulisan ini bukan nyeleneh atau mau mengejek pemerintahan SBY- BOEDIONO tetapi inilah yang betul-betul dirasakan oleh anak bangsa Indonesia dari SABANG sampai MERAUKE.Bukan hal yang mengada-ada, sejak awal pelantikan, rezim inilah membuat carut marutnya perekonomian Indonesia bahkan sampai harga diri bangsa ini pun tergadaikan.

BBM  ( Benar- Benar Mahal )


Pada tahun 2005 kenaikan harga BBM pertama kali dilakukan pada 1 Maret 2005 dari Rp1.810/liter menjadi Rp2.400/liter. Tujuh bulan kemudian pada 1 Oktober 2005, pemerintah kembali menaikkan harga BBM sebesar 87,5%dari Rp2.400/liter menjadi Rp4.500 per liter. Saat itu pada 30 Desember 2005, crude oil price ditutup diharga USD 61,04/barel. Karena itu pada tahun 2005 inflasi mencapai level 17,11% dan untuk menahan tingginya inflasi, maka Bank Indonesia menaikan suku bunga acuan dari bulan Juli-Desember dari 8,50% ke level 12,25%. Saat itu inflasi impor juga meningkat seiring pergerakan kurs Rupiah terhadap US Dollar yang melemah dari Rp9.090 ke level Rp9.803,92 pada akhir tahun 2005, sehingga terlihat adanya capital flight akibat pertumbuhan inflasi yang terlalu tinggi. cadangan devisa sepanjang tahun 2005 menurun dari USD 36 miliar ke USD 34,723 miliar di akhir tahun 2005. Meskipun setiap kali kenaikan harga BBM subsidi selalu memberikan pengaruh negatif ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) namun jika kita perhatikan sepanjang tahun 2005 IHSG tetap menunjukan kenaikan dari 1000,88 ke level 1162,64 (+16,16%) pada akhir tahun 2005.

Pada tahun 2008, tepatnya 24 Mei 2008 pemerintah kembali menaikkan harga BBM dari Rp4.500/liter ke hargaRp6.000/liter karena pada tanggal 23 Mei 2008, crude oil price mencapai harga maksimumnya di harga USD 132,19/barel sehingga menyebabkan peningkatan inflasi kembali mencapai double digit ke 11,06% dan akhirnya kembali Bank Indonesia menggunakan haknya untuk mengintervensi pasar dengan menaikan suku bunga acuan dari 8% ke 9,25% pada akhir tahun 2008. Sepanjang tahun 2008 kurs Rupiah melemah dengan drastis terhadap US Dollar dari Rp9.433,96 ke level Rp11.235,96 pada akhir tahun 2008. 

Jika kita ingat, Tahun 2008 adalah saat dimana terjadinya krisis ekonomi global yang disebabkan masalah subprime mortgage di Amerika yang akhirnya menular ke negara-negara lainnya. Kembali kenaikan harga minyak menyebabkan kurs Rupiah melemah dengan drastis yang kembali disebabkan capital flight karena jelas investor asing mulai merasakan depresiasi asset Rupiah dengan pertumbuhan inflasi yang sebesar itu sehingga tidak heran adanya oversold di bursa saham yang menyebabkan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) melemah tajam dari 2715,06 ke level 1355,41 (-50,08%) pada akhir tahun 2008. cadangan devisa sepanjang tahun 2008 menurun dari USD 55,999 miliar ke USD 51,639 miliar di akhir tahun 2008.

Kini Kebijakan 2008 akan diulang lagi di tahun 2013 ini kenaikan BBM dari harga Rp 4.500,- ke harga Rp. 6000,- dengan alasan Subsidi BBM lebih dari cukup untuk menambah dana ke setiap provinsi ratarata Rp 5 triliun setahun. Dengan jumlah 33 provinsi, dana yang ditambahkan ke daerah sekitar Rp 165 triliun atau lebih ketil dibanding subsidi BBM tahun ini yang diproyeksikan mencapai Rp 216 triliun dan rencana subsidi BBM 2013 sebesar Rp 167 triliun. "Kalau setiap provinsi mendapat dana tambahan Rp 5 triliun setahun, pembangunan infrastruktur daerah akan mengkilap dan berbagai sektor vital di daerah akan berkembang cepat," kata Suryo Bambang Sulisto.
Dalam APBNP 2012, subsidi BBM dipatok Rp 137,4 triliun. Selama semester 12012, realisasi subsidi BBM sudah mencapai Rp 88,9 triliun atau 64,7% dari pagu APBNP 2012. Melihat kenyataan itu, pemerintah memproyeksikan realisasi belanja subsidi BBM pada 2012 mencapai Rp 216,8 triliun atau 157,8% di ates pagu APBNP 2012.

9 BAHAN POKOK.

Lain BBM lain pula 9 Bahan Pokok masyarakat.Faktor yang mendorong kenaikan itu inflasi sebesar 6,96% tergolong tinggi. Penyebab tingginya inflasi didominasi oleh tekanan bahan pangan yang antara lain disebabkan terkendalanya pencapaian target produksi pangan akibat anomali cuaca. Kondisi cuaca yang tidak normal mengakibatkan menurunnya pasokan beberapa komoditas pertanian seperti cabe merah dan cabe rawit sehingga tidak dapat menahan lonjakan harga komoditas tersebut. Selain itu, kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar dunia pada akhir tahun 2010 mendorong kenaikan harga minyak goreng domestik dan menjadi salah satu penyumbang inflasi. Dengan perkembangan tersebut, inflasi kelompok volatile food pada Desember 2010 mencapai 3,29% (mtm) atau 17,74% (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 1,69% (mtm) atau 13,77% (yoy) (Tinjauan Kebijakan Moneter BI-Januari 2011).

Harga beras di pasaran kini terpantau antara 6.500/ liter hingga Rp.8.500/ liter.Selain itu Hargai Cabai pun tak trun-turun juga.

Belum selesai permasalahan beras, Rakyat dikejutkan dengan kenaikan harga daging di pasaran yang dijual sekitar Rp.90.000/ KG. Harga daging meroket karena adanya OKNUM PARTAI KEADILAN SEJAHTERA bermain di impor daging tersebut.Praktek KARTEL diterapkan, sehingga masyarakat pun makin terjepit dari permainan kartel tersebut.

Selain itu Kedelei pun sebagai bahan pokok dari tempe dan tahu, juga mengalami kenaikan drastis, harga terakhir dipasaran sekitar Rp 7.000/Kg.

Yang paling santer akhir- akhir ini, adalah kenaikan harga bawang putih meroket hingga Rp. 70.000/Kg sedangkan bawang merah sekitar Rp. 40.000,-/Kg.


Dampak Sosial
Dilihat dari sisi sosial, pengaruh dari kenaikan BBM dan 9 Bahan Pokok akan memberikan dampak pemiskinan yang semakin tinggi. Hal ini dikarenakan semakin tingginya biaya hidup, terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan.

Hal ini akan menjadikan mereka yang selama ini hidup pas-pasan menjadi miskin karena tidak mampu mengikuti kenaikan biaya hidup. Pada skala besar akan menjadi fenomena pemiskinan secara sistematis dan berkelanjutan.

Jangan kaget, bilamana nanti kita akan melihat di sekitar kita, semakin banyak pengemis di jalanan, para pemulung sekitar tempat tinggal dan semakin maraknya pelacuran serta semakin banyak dijumpai kejadian kriminal di negeri ini.

Bagi mereka yang berada dan dekat dengan lingkaran kekuasaan, hal ini akan membuat mereka menaikkan pungutan liar dan nilai uang yang dikorupsi, dengan alasan untuk “menutup” kenaikan BBM.
 
Dampak Politik

Secara politis, dengan terjadinya kenaikan BBM dan 9 bahan Pokok akan mengakibatkan semakin tingginya biaya politik yang harus dibayar dan semakin maraknya penyelewengan penyelenggaraan kekuasaan yang terjadi di negeri ini.

Adalah merupakan rahasia umum, pemberian sejumlah “biaya siluman” dalam menggolkan suatu peraturan. Dana ini tentunya tidak tertulis dalam lembaran administrasi negara. Namun berlangsung secara “wajar” dalam penyelenggaraan administrasi kenegaraan.

Dengan adanya permintaan kenaikan BBM dan 9 bahan Pokok tentunya jumlah yang diminta juga akan semakin besar, dengan alasan agar tidak terjadi gejolak yang meningkat di masyarakat dan juga untuk “menenteramkan” anggota partai dan para simpatisan.

Di satu sisi, besarnya biaya siluman ini akan berdampak pada pengurangan anggaran di sektor lain, biasanya anggaran yang menyangkut kesejahteraan masyarakat, yang dianggap “tidak penting”. Sehingga kemungkinan jumlah masyarakat yang terlayani dalam bidang kesejahteraan akan semakin jauh berkurang.

Bilamana hal ini terjadi, maka pengurangan biaya kesejahteraan seperti, pelayanan kesehatan dan fasilitas infrastruktur. Hal akan menjadikan masyarakat kelas bawah yang mengharapkan bantuan menjadi semakin terpuruk.

Kompensasi dampak kenaikan BBM seperti bantuan langsung tunai (BLT) pun tidak akan bisa memberi dampak yang nyata bagi masyarakat. Selain karena tidak tepat sasaran juga banyak potongan di dalamnya.
Bilamana kondisi semacam ini berlangsung terus, bisa menimbulkan berbagai keresahan yang berujung pada gejolak sosial dan politik di masyarakat.

Seperti kita baca di berbagai media, saat ini masyarakat kita dalam kondisi temperamen. Sehingga bila ada masalah sedikit saja yang melibatkan aparat dan masyarakat bisa berakibat kerusuhan massa.

Di sisi lain, juga akan menjadikan suatu alasan kuat bagi para “lawan politik” partai yang berkuasa untuk mendiskreditkan pemerintah, dengan salah satu alasan “tidak melindungi” kepentingan masyarakat bawah dan kurang bijak dalam kondisi sulit untuk menaikkan harga BBM.

Hal ini juga ditunjang dengan masalah carut marut dalam pemerintahan, termasuk penanganan korupsi yang tidak jelas ujung pangkalnya dan kapan berakhirnya.

Berbagai alasan tersebut di atas bisa menjadi salah satu senjata dalam mendiskreditkan pemerintah dan partai yang berkuasa saat ini. Dalam periode selanjutnya bisa menjadi sarana untuk melakukan empeachment terhadap presiden.

Bilamana pemerintah tidak mewaspadai dampak multi dimensi yang akan terjadi, maka nasib negeri ini sebagai negara yang gagal (fail state) hanya menunggu waktu saja. Dan kita juga hanya bisa berharap dan berdoa bagi keselamatan kita masing-masing.

Akhirnya...

Apa yang ditakutkan dan dikhawatirkan masyarakat bahwa negeri ini akan dibawah ke arah pemerintahan NEOLIBERALISME,..benar-baner TERBUKTI,....iya ga pak BEYE ???